Kalbe Farma / KLBF siap pasok Eritropoetin
BEKASI— Kalbe Farma siap memasok seluruh kebutuhan eritropoetin Indonesia dalam satu dekade ke depan, yang diperkirakan mencapai 10 juta unit per tahun.
Direktur Pengembangan Bisnis, PT Kalbe Farma Tbk, Sie Djohan, mengatakan anak usaha PT Kalbio Global Medika ditargetkan mulai memproduksi eritropoetin (Epo) pada pertengahan 2018. Epo digunakan dalam penanganan penyakit ginjal dan kanker.
“Kami sekarang sedang melakukan sertifikasi produk. Setelah itu butuh sekitar 6 bulan untuk memastikan produksinya stabil,” katanya, Rabu (18/1/2017).
Kalbio Global mampu memproduksi 10 juta unit Epo per tahun. Kapasitas tersebut memadai untuk mengisi kebutuhan pasar Indonesia dan beberapa negara tetangga.
Sie menjelaskan saat ini Kalbe telah bertindak sebagai pengimpor Epo hasil produksi China untuk pasar Tanah Air. Kalbe memasok sekitar 1 juta unit per tahun, termasuk ke sistem jaminan kesehatan nasional.
Namun, dia memperkirakan kebutuhan Epo di Indonesia jauh lebih besar karena saat ini pelayanan kesehatan cuci darah dapat dimanfaatkan oleh 30% dari masyarakat yang membutuhkan.
“Sekitar 70% belum mendapatkan pelayanan. Dari sana saja bisa sekian kali lipat. Di tambah lagi, ekspor. Ke depan kami melihat kebutuhannya bisa 10 kali lipat dalam 5—10 tahun,” kata Sie.
Presiden Direktur Kalbe Farma Irawati Setiady menjelaskan Kalbio Global Medika adalah komitmen Kalbe Farma mendukung ambisi pemerintah membangun industri bahan baku farmasi.
Proses pembangunan fasilitas produksi Kalbio Global Media telah berlangsung sejak 2 tahun dengan nilai investasi mencapai US$35 juta. Kalbe Farma juga khusus mengembangkan sumber daya manusia untuk mengawaki pabrik tersebut.
“Kami mengirim pekerja ke Korea Selatan dan China untuk belajar soal produksi biosimilar. Mereka melakukan trial dan implementasi didampingi para ahli,” kata Irawati.
Sie mengatakan Kalbe Farma memilih produksi biosimilar karena proses tersebut dinilai lebih efektif menyubstitusi kebutuhan impor dibandingkan dengan produksi bahan baku farmasi berbasis kimia.
Dia mengklaim pemindahan pasokan bahan baku farmasi berbasis kimia (active pharmaceutical ingredients) ke dalam negeri hanya bisa menghemat devisa sebesar 10%—20% karena bahan baku produksi active pharmaceutical ingredients masih harus diimpor.
Di sisi lain, proses produksi biosimilar menggunakan sel induk (master cell). Kalbio Global Medika, misalnya, memiliki sel induk yang bisa digunakan untuk menghasilkan bahan baku farmasi hingga 30–50 tahun ke depan.
“Selain itu, kalau kita kita lihat separuh dari 20 produk farmasi yang paling sukses di pasar saat ini adalah produk bioteknologi. Kami percaya dengan mengembangkan bioteknologi ini industri farmasi Indonesia bisa menghasilkan nilai tambah lebih besar,” kata Sie.
Standar WHO
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Penny K. Lukito mengatakan BPOM siap mendukung Kalbe Farma agar bisa segera mulai memproduksi produk biosimilar secara komersial.
Dia mengatakan BPOM sudah memiliki kemampuan untuk menguji dan mengawasi produk biosimilar sesuai dengan standar WHO.
“Terkait dengan registrasi, fasilitasnya juga akan melalui proses sertifikasi. Dengan dukungan BPOM masyarakat bisa mengakses pada produk biosimilar yang baik,” kata Penny.
Editor: Bunga Citra Arum Nursyifani.
Komentar
Posting Komentar